RIZA CPNS BKKBN ASAL SLAWI (TEGAL) , PERAIH PENGHARGAAN KEMENPAN-RB
Di Post Oleh: Rizal Tanggal: 27/07/2019 Di Baca 57 kali

Jakarta – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) - Sekitar 6.198 CPNS Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dari berbagai  instansi pemerintahan mengikuti Presidential Lecture bersama Wakil Presiden RI Jusuf Kalla di Istora Senayan Jakarta, Rabu 24 Juli 2019. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) menggelar Presidential Lecture ke II setelah sebelumnya di tahun 2018, dengan tema ‘sinergi untuk melayani’ di Istora Senayan Jakarta (24/07). 

Pada kegiatan Presidential Lecture II, Kementerian PAN-RB memberikan beberapa penghargaan bagi CPNS. Salah satunya diberikan kepada CPNS Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yakni  Siti Riza Azmiyati, Penyuluh Keluarga Berencana, Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah. Mendapatkan penghargaan sebagai CPNS dengan nilai tertinggi SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) nasional dengan nilai 444. Perempuan kelahiran Tegal, 22 Januari 1991 ini merupakan Sarjana Strata 1 lulusan Universitas Negeri Semarang tahun 2014 yang mendaftar seleksi CPNS BKKBN melalui formasi umum.

Siti Riza Azmiyati yang juga merupakan wisudawan terbaik jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang tahun 2014 mengungkapkan, ”Dari awal saya memang berniat utk menjadi PNS, karena saya melihat PNS adalah jalan hidup yang mulia, mengabdikan dan mendedikasikan diri bagi masyarakat, dan saya ingin jadi bagian dari orang-orang hebat tersebut,” ungkap Riza saat dihubungi humas BKKBN Kamis, (25/07).

“Jauh-jauh hari sebelum proses seleksi, saya mempelajari tes SKD, baik dari buku maupun internet. Saya membiasakan diri dengan tipe-tipe soal SKD, seperti TIU (Tes Intelegensi Umum) yg biasanya mempunyai pola-pola soal tertentu dan menguji logika serta analisis, TWK (Tes Wawasan Kebangsaan) yg diharuskan memahami ttg sejarah bangsa, falsafah bangsa, pancasila dan UUD 1945, dan sistem kepemerintahan, serta TKP (Tes Karakteristik Pribadi) yg menguji apakah karakter kita sesuai dg karakter seorang PNS yang berjiwa melayani,” tambah Riza yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ibu Riza juga seorang PNS yang bertugas di RSUD Slawi, Tegal.

Riza demikian dia biasa dipanggil menyampaikan, “Saya memilih Penyuluh KB karena saya senang bertemu orang baru, lebih senang lagi jika bisa membantu mereka, saya bahagia bila bisa sharing dengan rekan, mendengarkan masalah-masalah mereka, berdiskusi solusi-solusi yang kira-kira bisa mereka pilih, dan apabila mereka telah memutuskan dan merasa pilihannya tepat, saya juga merasa lega karena bisa membantu. Itu yang saya lihat di posisi penyuluh KB..” Tegas Riza yang selama kuliah di Universitas Negeri Semarang (UNNES) aktif di organisasi KSR (Korps Sukarela) PMI UNNES.

“Menurut saya menjadi Penyuluh merupakan pekerjaan mulia dan mengasyikan, mengasyikan karena bisa langsung bertemu masyarakat, mengetahui sisi berbeda dari suatu perilaku masyarakat yang mungkin perlu diperbaiki, dan bersama dengan masyarakat memperbaiki hal tersebut dengan pendekatan-pendekatan personal maupun komunitas, mulia karena bisa terjun langsung menemui masyarakat, memberi edukasi tentang kesehatan dan mendorong masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidupnya.” tambah Riza yang sebelumnya pernah bekerja hingga tahun 2017 di sebuah klinik vaksinasi di Jakarta Pusat.

Penyuluh KB adalah ujung tombak Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di lini lapangan. Saat ini diseluruh Indonesia jumlahnya hanya 14.169 orang, jumlah ini masih kurang ideal karena seharusnya seorang Penyuluh KB maksimal membawahi 2 Desa.

Tantangan Program KKBPK saat ini masih tinggi. Meskipun angka Total Fertility Rate (TFR) sudah mengalami penurunan dari 2,6 menjadi 2,4 pada tahun 2017 setelah mengalami stagnansi selama 10 tahun terakhir, namun tantangan-tantangan lainnya seperti capaian pemakaian kontrasepsi modern, kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi  masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pada akhir tahun 2019 nanti.

Selanjutnya tantangan-tantangan para Penyuluh KB dan Petugas Lapangan KB sebagai sumber informasi dan edukasi untuk Pasangan Usia Subur (PUS), keluarga dan masyarakat tentang Program KKBPK juga masih tinggi, seperti tingkat pengetahuan dan pemahaman PUS tentang jenis metode kontrasepsi modern, Pemahaman dan kesadaran tentang fungsi keluarga, remaja yang mengakses Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja dan seterusnya juga perlu didorong agar tercapai sesuai target.  (HUMAS)

Siaran Pers No. RILIS/65/B4/BKKBN/VII/2019

Top